Lagi males nulis di kotak komentar.
Kenapa, Zah? Kenapa dihapus? Sayang ceritanya. Hmm.. kamu mau ngambil ceritanya buat di blogmu? Ya, nggak apa-apa. Terserah.
Apa maksudnya kamu bilang “hapus, sakit hati aku”. Kenapa sihh?? Bilang aja ceritanya jelek, ataauuu … kamu masih sebel. Kalau masih sebel, sampai puluhan tahun lagi kek, terserah. Yang penting aku masih mempertahankan komenmu dan idemu. Tapi, untuk kali ini saja. Kalau kamu masih ‘ngamuk’ mau dihapus, mulai besok (kamis 17 mei) aku hapus semua ide dan komentarmu yang diposting besok.
Kamu tahu kenapa yang posting marahan aku itu dihapus? Bukan karena aku marah sama kamu, tapi karena aku cuma ngasih tau sampai kamu komen (berarti kamu udah baca), terus hapus. Kalau komentar yang lain aku hapus karena aku nggak mau marahan di blog. Jadi, aku hapus bukan berarti ada nama kamu.
Hei, apa kamu mau bilang alay lagi untuk postingan ini? Nggak apa-apa, nggak ada yang mencolok untuk dibilang alay. Tapi kan, aku cuma ngasih tahu tujuan aku menghapus komentar-komentar. Komentarmu pun nggak bisa sembarang aku hapus.
Eh, tapi boleh deh. Aku masukin tong sampah sementara, nanti kalau kamu udah biasa lagi (kapan saja bisa), aku munculin lagi. Jadi, ibaratnya aku belum masukin ke TPA. Mau, ya?
Kira-kira ada delapan anak-anak yang sedang bermain di sebuah taman. Mereka adalah Rani, Raudhah, Rahma, Rita, Raissa, Iffa, Nisa, Sekar. Mereka biasa disebut R5INS. Hihihi … cukup aneh ya?
“Teman-Teman, kita kan mau menanam. Jadi, aku ambil air dulu di rumahku ya!” seru Rani. Rumahnya memang dekat dengan taman alias tepat di depan taman.
“Iya. Ambil airnya seember kecil saja, ya! Soalnya kita akan menanam sedikit,” ujar Nisa.
“Oh iya, Ran! Jangan lupain kata Nisa, tuh! Kamu kan, pelupa …” kata Rahma.
“Siap deh, Teman-Teman!” ujar gadis usia tujuh tahun itu, tepatnya Rani.
Teman-temannya kembali sibuk menanam bibit bunga anggrek. Pengennya sih, sebagian bunganya lalu dijual dan menghasilkan uang. Tapi, mereka tak dapat menjamin bisa menjual bunga anggrek tersebut.
“Lalala ..” Rani bernyanyi-nyanyi riang. Saking seriusnya menyanyi, dia sampai memejamkan mata dan tak melihat jalan.
“Awaaasss!” seru Andita yang sedang naik sepeda mengingatkan. Dia sedang mengebut sehingga tidak bisa direm.
“Rani, ada Dita!” Raissa mengingatkan juga.
“Lalala …” Rani tak peduli, tetap melanjutkan nyanyiannya.
BRAAAKKK! Sepeda Andita jatuh dan tanpa sengaja Rani terkena sepeda Andita. Andita juga ikut terjatuh.
“Aawww!” jerit Rani kesakitan.
Memang kakinya tadi sempat kegiles ban sepeda sehingga sepeda tersebut jatuh. Bisa bayangkan rasa sakitnya?!! Sudah itu, Rani ikut jatuh dan tertimpa bagian sepeda depan pula!
“Raniii!” Ketujuh sahabatnya langsung mendatangi Rani yang lemas.
“Bopong dan bawa ke rumahnya!” perintah Nisa.
Mereka pun menggendong Rani, meski rumahnya sangat dekat lagi. Itu karena Rani sangat lemas. Eh, tapi bukan Rani yang lemas, tapi kakinya!
“Assalamu’alaikum, Bibi Linaaaa!!” teriak R5INS kecuali Rani. Padahal biasanya teriakan Rani yang paling nyaring. Tetapi, bukan hanya R5INS, lho! Andita juga ikut mengantarkan Rani setelah menaruh sepedanya di depan rumah Rani.
“Wa’alaikum salam! Eh, Rani … ada apa??” tanya Bibi Lina kaget dan segera membuka pintu selebar-lebarnya.
“Ini, Bi … sepeda Andita menabrak Rani yang sedang di tengah jalan. Tolong dimaafkan ya, Bi! Soalnya Rani juga salah … diam di tengah jalan,” jelas Rahma.
“Oh, begitu! Ya sudah … cepat bawa masuk!”
Rani dibawa ke kamarnya yang luas. Tetapi, kamarnya itu sekamar dengan Anita, kakaknya yang berumur empat belas tahun. Jadi, maklum saja jika kamarnya luas. Ah ya, di kamar itu ada kamar mandi dua, meja belajar dua, lemari pakaian dua, tempat tidur besar satu, lemari buku besar satu, lemari koleksi barang satu, dan barang-barang lainnya. Hmm … benar-benar orang kaya!
“Bibi akan panggilkan Nenek Ikem, tukang urut yang terkenal di sini,” ujar Bibi Lina. Dia pun memerintahkan agar Bibi Fia, pembantu yang kerjanya mengenai luar (misalnya ‘tolong antarkan ini’, ‘beli ini’, atau apalah) untuk ke rumah Nenek Ikem untuk meminta mengurut kaki Rani.
Nenek Ikem? Sepertinya aku pernah kenal, batin Rani. Dia seperti ada seseorang yang membisikkan kalau dia sangat dekat dengan Rani. Tapi Rani tidak tahu dia siapa.
Dua puluh menit kemudian, Bibi Fia datang ke kamar Rani bersama Nenek Ikem. Nenek Ikem pun segera mengurut kaki Rani. Ketika dia melihat kalung yang Rani gunakan, Nenek Ikem juga merasa kenal. Malah, dia ingat siapa Rani.
“Ra .. ni?!!” tanya Nenek Ikem.
Sebenarnya, Nenek Ikem ingin langsung bicara di depan Rani sendiri kalau dia neneknya. Jadi, ceritanya begini …
Dua tahun lalu saat Nenek Ikem dan Rani tinggal di Arab, mereka masih kaya raya (Nenek Ikem sekarang miskin), tiba-tiba Rani diculik. Dia dijual di Malaysia dan dibeli oleh seorang turis dari Indonesia. Yang membeli Rani ialah papa angkat Rani. Dia beranggapan kalau dibeli olehnya, kehidupan Rani jauh lebih baik daripada di tempat penjualan.
Nenek Ikem hanya mendengar berita itu. Dengan segera, dia berangkat ke Indonesia dan mencari Rani. Tapi, sudah dua bulan mencari … Rani tak ditemukan. Akhirnya, Nenek Ikem memutuskan tinggal di Desa Flamboyan (sedesa dengan Rani) dan menjadi tukang urut karena hartanya habis semua (yang dibawa ke Indonesia) untuk ongkos-ongkos dan keperluan lainnya. Dia menjadi tukang urut karena Nenek Ikem memiliki kelebihan di bidang itu.
Oh iya, Rani terpaksa tinggal dengan neneknya karena kedua orangtua Rani bekerja di Amerika. Mereka akan pulang setahun sekali. Karena itu, Rani lebih memilih tinggal dengan nenek di Arab daripada di Amerika. “Males belajar bahasa Inggrisnya.” Begitu komentar Rani dulu. Tapi, bukannya bisa bahasa Inggris agar ikut orangtuanya ke Amerika, dia malah bisa bahasa Indonesia karena tinggal di Indonesia. Lagipula, kebanyakan saudaranya di Indonesia (hanya saja tinggalnya pencar-pencar. Di Sumatralah, di Kalimantanlah, di Balilah, di .. mana saja!) sehingga Rani lebih biasa menggunakannya.
Keberanian Nenek Ikem tiba-tiba muncul. Tetapi, ketika melihat wajah pembatu-pembantu Rani yang memperhatikan Nenek Ikem, dia jadi malu. Bisa-bisa, karena keterlaluannya Nenek Ikem bicara, dia bisa diusir. Apalagi sekarang dia butuh uang untuk membeli makanan karena sudah 3 hari dia tidak makan, hanya minum.
Lama-kelamaan satu-persatu pembantu Rani keluar, karena bosan untuk melihatnya. Nenek Ikem lega. Dia merasa lebih ringan untuk memberitahukan Rani tentang rahasia besar tersebut. Sayang, pembantu pribadi Rani (Bibi Farsya) tidak keluar kamar.
“Nanti masih ada urut beberapa kali lagi ya,” kata Nenek Ikem seraya bersiap-siap keluar kamar seusai mengurut.
“Iya. Terima kasih ya, Nek Ikem …” kata Bibi Farsya sambil mengeluarkan selembar uang Rp100.000,-.
Mata Nenek Ikem membulat. Banyak sekali! batinnya. Selama ini, Nenek Ikem bekerja dengan sukarela. Boleh dibayar, boleh tidak. Itupun bayarannya sukarela. Jadi, ketika melihat uang ratusan ribu, dia sangat senang sekali.
“Te .. rima kasih sekali!!” seru Nenek Ikem.
“Ya, sama-sama!” Lalu, Bibi Farsya mengantarkan Nenek Ikem untuk naik mobil dan diantar ke rumahnya.
Seminggu kemudian, Anita yang sudah biasa mengendarai motor tiba-tiba terjatuh di depan sekolahnya saat pulang belanja di Alfamart depan kompleks (mamanya menitipkan suatu barang pada Anita, bukan Bibi Fia). Dia tidak mengalami patah tulang, tapi hanya mengalami sakit-sakit di bagian tubuh yang terkena timpaan motor. Yang pasti, lebih sakit daripada Rani.
Bibi Lina memanggil Nenek Ikem kembali. Tapi, Nenek Ikem mengatakan kalau dia sedang sakit. Memang benar dia sedang sakit. Tubuhnya selalu menggigil kedinginan, bersin-bersin, dan terkadang mimisan.
Sementara di rumah Nenek Ikem, dia tersenyum puas. Nenek Ikem telah menulis surat untuk Rani tentang Nenek Ikem adalah neneknya Rani. Kalau nanti dia meninggal dia akan nitip kepada tetangga sebelah rumah Nenek Ikem untuk menyampaikan surat kepada Rani.
Di kamar Rani …
“Kak, kemarin kejadiannya gimana?” tanya Rani penasaran.
“Waktu itu, aku lagi cari apel Rani, terus ngeliat kucing mirip kamu, jatuh deh!” canda Anita.
“Iiihh … yang benar, Kak!” protes Rani.
“Ke …” ucapan Anita terpotong.
“Berita duka! Ikem yang biasa disapa Nenek Ikem sebagai tukang urut telah dipanggil Allah Swt! Jenazah akan dimandika dua puluh menit mendatang dan dikebumikan pada jam 13.00 WIB!!” seru seseorang di masjid membawa berita duka. Dia mengulang ucapannya sebanyak tiga kali.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun!!” kata Anita dan Rani serempak.
Mereka berdua yang ingin ikut mendo’akan Nenek Ikem sekaligus menyolati pun datang ke masjid. Bibi Farsya juga ikut serta.
Prok!
Seseorang menepuk bahu Rani. Rani menoleh.
“Adik … Rani yang pernah diurut almarhumah Nenek Ikem?” tanya orang itu.
“Iya,” jawab Rani.
“Ada titipan dari Nenek Ikem,” kata orang tersebut.
Dia menyerahkan kertas yang dilipat menjadi kecil. “Terimakasih.”
Orang itu pergi entah kemana.
Rani membuka lipatan kertas tersebut.
Untuk Rani
Dari Nenek Ikem
Assalamu’alaikum wr.wb.!
Rani, maaf kalau Nenek sangat keterlaluan bicara. Kamu ingat Nenek? Nenek kamu sebelum diculik? Kamu tahu, setelah kamu diculik orangtuamu merasa sangaat sedih. Sekarang pun dia masih sedih. Malah tambah sedih karena kehilangan Nenek. Nenek hanya mau bilang, Rani adalah cucu kandung Nenek. Terserah kamu, kamu mau percaya atau tidak. Pokoknya, Nek Ikem itu Nenek kamu di Arab …
Wassalamu’alaikum wr.wb.!
Air mata Rani tumpah semua. Bukan hanya mengingat neneknya yang telah meninggal, dia juga sedih mendengar berita dari surat tersebut. Anita dan Bibi Farsya mencoba menghibur.
“Jangan sedih, Rani …” kata Anita.
“Bukan begitu, Kak! Nenek Ikem itu sebenarnya nenekku!!” jerit Rani pelan.
Anita dan Bibi Farsya melotot tak percaya. Rani terus menangis tersedu-sedu.
Akhirnya, sebulan kemudian orangtua Rani menemukan anaknya. Mereka pun saling berpelukan bahagia.
Lama banget aku nggak ngetik hal-hal yang kusukai di blog indah ini. Hihihi … maaf, karena banyaknya teman-teman yang lebay dan narsis, aku jadi ketularan deh! Jadi, maaf bangeett!
Hmm … karena aku sedang malas membuka WordPress, jadi nulis disini saja deh! Sekarang aku mau mengetik tentang kisahku saat menjadi pembaca Al-Qur’an di acara Khatamul Qur’an khusus kelas 6. Oya, karena banyak dialog yang aku lupa, jadi aku buat saja ya, yang penting isi ucapannya betul. Ceritanya begini …
***
9 April 2012 …
Tok! Tok! Tok!
Pak Agus mengetuk pintu dan memberi isyarat kepada Pak Khair untuk bicara sebentar. Pintu kelasku kan, transparan atau tembus pandang karena sebagian permukaannya dari kaca, jadi bisa bicara meskipun dihalangi pintu itu.
“Sssyuuutt.” Mereka bicara sesuatu yang sangat tidak terdengar. Selepas itu, Pak Khair yang baru menutup pintu kelas berjalan ke tengah ruangan.
“Siapa yang mau menjadi pembaca Al-Qur’an dan Saritilawah untuk acara Khatamul Qur’an kelas 6??” tanya Pak Khair.
Tidak ada di antara kami yang mengangkat tangan.
“Kata Pak Agus, yang membaca Salma atau Euis,” ujar Pak Khair sambil berjalan mendekatiku yang sekelompok dengan para sahabatku, termasuk Euis.
Aku berpikir-pikir sebentar.
“Kamu saja deh, Ma!” kata Euis seraya menunjukku.
“Tapi nanti nggak boleh baca ya, harus dihafalkan,” ucap Pak Khair.
“Ya sudah Pak, berdua saja!” seruku yang kebingungan.
“Lah, emangnya bisa duet?” tanya Pak Khair heran.
Aku diam saja tak menjawab.
“Untuk saritilawahnya, Zahra! Mana Zahra?” Pak Khair melanjutkan ucapannya.
Zahra mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Nanti hari Sabtu kumpul di gedung lama jam 7 ya, Zahra!” seru Pak Khair.
Aku lupa Zahra mengatakan apa.
“Habis makan latihan di sini ya!” kata Pak Agus ketika aku hendak menyalaminya seusai shalat di musholla baru sekolah.
“Iya,” jawabku singkat.
Aku pun kembali ke gedung sekolah dan menuju lantai 2. Kuambil tas makanku dan botol air minum.
“Euis, nanti habis makan latihan di musholla,” pesanku.
Euis mengucapkan sesuatu yang kulupa juga.
Kemudian aku turun ke bawah untuk mecari posisi makan. Di teras gedung, kulihat Zahra sedang makan.
“Habis makan latihan di musholla!” pesanku.
“Habis makan??” Zahra terkejut.
“Iya!” seruku.
Kemudian aku pun makan di ujung teras, dekat rak sepatu yang tidak bau. Kelima sahabatku duduk berdekatan denganku.
“Euis, ayo!” seruku mengingatkan saat selesai makan.
Euis langsung mengambil Al-Qur’annya, begitu juga denganku. Selanjutnya aku mengambil sandal agar tidak repot-repot membuka-tutup sepatu.
“Eehh, bentar … Is! Mau lihat presentasi kita dulu!” seruku sambil melihat Fatya mengatur-atur presentasi yang dibuat di Microsoft PowerPoint untuk ditampilkan pada pelajaran IPS. Netbook yang digunakan Fatya itu milikku. Aku sengaja membawa netbook demi presentasi kelompokku, Kelompok Singa.
Setelah puas melihat presentasi, aku berkata. “Ayo, Euis!”
Aku dan Euis berjalan beriringan menuju lantai bawah. Di sofa teras, Pak Agus sedang mengobrol dengan seseorang.
“Dimana, Pak?” tanyaku bingung ketika melihat Pak Agus tidak berada di musholla.
“Di musholla!” jawab Pak Agus.
Aku segera menggunakan sandal dan berjalan ke masjid. Tapi, baru 2 sampai 3 langkah, kudengar gelak tawa Alda dan Zahra di belakangku. Aku berbalik badan.
“Kenapa sih?” tanyaku heran.
Karena tidak dapat respons, aku dan Euis melanjutkan ‘perjalanan’ ke musholla sekolah. Lalu, Zahra ikut berangkat dan berjalan di sebelahku.
Di musholla, kami bertiga asyik mengobrol sekaligus bergosip. Hehehe … jangan ditiru ya, Teman-Teman! Kalau lagi begini, aku suka lupa kalau nggak boleh bergosip.
Tiba-tiba rombongan kelas 6 berjalan memasuki musholla.
“Lho, kalian ngapain ke sini?” tanya Kak Nadia.
“Latihan jadi pembuka acara!” seruku ngasal.
Kemudian, rombongan itu duduk melingkar di karpet. Pak Agus duduk di depan, membatasi laki-laki perempuan dan kelas 6. Sedangkan aku menjadi tembok antara laki-laki dan perempuan dari bagian belakang.
Sementara mereka latihan, aku dan kedua temanku itu menjauh dari posisi kelas 6 latihan. Kami duduk di karpet yang terletak di pinggir musholla. Segar lho, kan tidak ada temboknya. Jadi sejuk begitu.
Kami mulai latihan dan diakhiri dengan bosannya menghafal dan latihan. Kami bertiga pun kembali ke kelas dan menemukan kelompokku duduk di depan kelas untuk ikut menyaksikan presentasi yang dibuat. Aku ikut-ikutan saja. Eh, tidak tahunya beberapa menit kemudian bel berbunyi. Uuuhh …
10 April 2012 …
Aku baru selesai makan siang di sekolah. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi atau tepatnya area wudhu untuk mencuci tangan. Selepas itu, aku keluar dan mendapati Euis dan Zahra sedang mencari Pak Agus untuk melaksanakan latihan.
“Eh, kamu nggak bawa Al-Qur’an?” tanyaku pada Zahra.
“Oh iya ya. Tolong bawain ya, Sal!”
“Iya!” balasku pendek, lalu segera ke lantai atas dan mengambil Al-Qur’anku dan Al-Qur’an Zahra. Sedangkan tempat makan kutaruh di gantungan sisi kanan meja.
“Kata Pak Agus sekarang nggak latihan,” ujar Zahra ketika aku baru turun.
“Nanti bilangin ke teman-temannya ya, pelajaran Bahasa Sunda menulis 50 kata benda bahasa Sunda,” pesan Pak Agus.
Kemudian, aku serta Zahra dan Euis naik ke kelasku. Aku menyebarkan pesan Pak Agus. Aku kan, diamanahkan. Jadi, harus menyampaikan!
11 April 2012 …
Tadi, Pak Agus yang menggantikan Pak Khair yang sakit ketika pelajaran Al-Qur’an mengatakan kalau ternyata tidak pakai saritiliwah sehingga Zahra tidak ikut. Euis pun tidak, karena pembaca Al-Qur’an hanya dibutuhkan 1 orang. Haduuuhhh, sendirian nih … diantara ‘warga’ kelas 6. Yah, nggak ada teman nih!
Kejadian pulang sekolah ini sangat rahasia. Soalnya, kalau ketahuan berbahaya. Mmm … boleh deh, 1 kalimat saja. Semua teman perempuan yang nggak dipilih latihan bernyanyi iri.
Hari itu, aku tidak berlatih membaca Al-Qur’an. Sebabnya pendek, karena aku tidak tahu ada latihan apa tidak. Kan Pak Agus tidak mengatakannya saat shalat di musholla tadi. Oke, lanjutkan saja ya!
12 April 2012 …
“Din, anterin aku ke Pak Agus yuk!” ajakku.
Aku memang terkenal pemalu sehingga enggan memasuki ruangan orang tanpa teman yang menemani. Jangankan memasuki, memanggil seseorang di ambang pintu saja tidak berani.
“Yuk!”
Kami berdua turun ke lantai bawah dan menuju ruang guru. Aku yang mengucapkan salam.
“Pak, nanti latihan nggak?”
“Latihan,” jawab Pak Agus yang kemudian berjalan keluar entah kemana.
Begitu aku akan keluar, Bu Mahyubi memanggilku.
“Salma, tolong bawa infocus!” kata Bu Mahyubi. Lalu, Bu Mahyubi bertanya-tanya pada guru yang lain tentang keberadaan infocus sekolah tersebut.
“Ssstt … Din, bentar! Suruh bawa infocus!”
“Tuh kan, firasatku benar! Pasti MTK pakai infocus!” ucap Dinda gembira. Tadi memang dia mengatakan kalau ingiiin sekali belajar pelajaran Matematika menggunakan infocus. Sekarang kan, pelajaran Matematika.
“Ambil infocus-nya di kelas 2!” perintah Bu Mahyubi.
Aku dan Dinda mengambil infocus serta speaker dari kelas 2. Tak lupa colokan panjang yang kubawa.
Saat pelajaran Matematika dimulai, Bu Mahyubi tidak mengajar … hanya menyalakan laptop dan membuka sesuatu. Aku berdo’a dalam hati. Semoga nggak nonton Hafalan Shalat Delisa, batinku berulang-ulang.
Memang, di sekolahku saat ini setiap kelas bergiliran untuk menonton film itu. Aku sangat tertarik menontonnya karena aku sudah membaca novelnya habis sejak beberapa minggu lalu. Apalagi Zahra yang bercerita kalau dia sudah menonton film tersebut sekaligus menceritakan ceritanya padaku. Uh, aku pengeen banget!
Aku bersyukur ketika Bu Mahyubi menyetel video hewan. Aku segera izin untuk berlatih untuk Sabtu. Bu Mahyubi pun mengizinkan karena hal itu bisa terbilang penting.
Di depan kelas 6, aku masih ragu untuk mengetuk pintu. Akhirnya aku melihat ke kebun lewat pagar batu-bata lantai atas. Tiba-tiba datang Kak Yudha serta Salwa dan Rishfa. Mereka akan memulai les Melukis.
“Hey!” seru Salwa seraya menepuk pundakku.
“Eehh! Nggak sopan ya, ngagetin orang!” seruku kesal.
Entah mengapa, Pak Agus langsung keluar dan mengajakku latihan di ruangan kelas 6. Aku menggeleng. Nanti kalau salah atau dibilang terlalu lebay, ditertawakan.
Pak Agus pun mengajakku ke depan kelas 5. Setelah latihan sekaligus berbincang-bincang, aku kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran Matematika.
13 April 2012 …
Aku, Fatya, dan Dwi mendatangi ruang guru. Fatya akan menemui Pak Endang atau tepatnya Mr. Endang. Setelah bertanya, ternyata Pak Agus sedang tidak ada. Aku pun mengambil kesimpulan kalau Pak Agus beserta kelas 6 gladi resik di gedung TK Azzahra. Buktinya, kelas 6 tidak ada dan Bu Ami tidak mengajar Bahasa Indonesia karena mau ke Taman Kenari.
Di TKJ, aku melihat serombongan kelas 6 berjalan pulang. Aku memang pulang naik jemputan sehingga Om Aep (supir jemputan sekolah) mengantar anak-anak TKJ dulu, baru anak Graha Puspasari 1 sepertiku. Tuh kan, benar apa kataku! Huuhh, aku nggak diajak gladi resik! Padahal aku kan, pembukaan! Apalagi Pak Agus belum ngasih info tentang jam acara besok! Wuaaa … gawaaaattt!
14 April 2012 …
Aku datang lumayan pagi, sekitar jam tujuhlah. Orangtuaku tidak ikut, karena merasa tidak diundang. Jadi aku datang ke sekolah hanya dengan kedua adikku serta berbekal sejumlah uang, Al-Qur’an, makanan, alat tulis, dan buku catatan.
Sesampainya di sekolah, aku jadi malu sendiri ketika melihat ‘warga’ kelas 6 dan ‘warga’ guru SD. Kan malu, aku cuma satu-satunya anak kelas 5. Sementara Safa dan Salwa main tiup gelembung di depan sekolah, aku menunggu di dalam gedung.
Setiap kali aku bertemu guru, rasanya seperti aku tidak dikenal. Buktinya mereka mengacuhkanku. Eh, tapi tidak semua sih! Hanya beberapa. Ya, mungkin karena aku tidak menyapa mereka, tidak seperti di sekolah yang rajin menyalami mereka.
Sekitar jam 8 pagi, acara pun dimulai. Para orangtua dan guru sudah memasuki ruangan (eh, emang upacara ya?). Begitu juga dengan para peserta Khatamul Qur’an kelas 6. Jadi, sudah sepertinya aku bersiap-siap karena aku menjadi pembukaan.
Ternyata, yang lebih dulu maju adalah kakak laki-laki dan perempuan. Aku tidak tahu mereka dari mana. Yang jelas, namanya itu kalau tidak salah Kak Lesmana dan Kak Yulia. Mereka memberi motivasi agar kelas 6 sekarang harus lulus 100 %. Yaaa, cukup banyak ‘ceramah’ mereka. Aku saja sampai bosan, meskipun tetap ‘merekam’ ucapan Kak Lesmana dan Kak Yulia.
Di akhir ‘ceramah’ itu, Kak Lesmana seperti berpidato tentang orangtua dan semua orang yang hadir menangis. Aku juga menangis seperti yang lain. Sangat mengharukan mendengarnya. Aku yakin, kalau kalian mendengarnya, pasti juga ikut menangis.
Tak disangka, aku yang datang jam 7 baru tampil sekitar jam 11-an. Ya, mungkin. Kalau tidak, mungkin jam 10-an. Huh, lama sekali! Tapi aku bersyukur datang jam 7 dan mengikuti AMT ‘palsu’ (karena aku berpura-pura menjadi kelas 6 di depan kakak-kakak tersebut) ini, karena aku dapat banyak pelajaran.
Hai, Friends! Lama ya, nggak ngobrol alias nulis cerita. Sekarang, aku mau menulis sesuatu yang harus Teman-Teman tahu! Eh, nggak terlalu juga sih .. Yang penting itu nomor 1.
1. Mulai detik ini, blog ini tidak lagi menampilkan DIARY!! Ya, diary! Diary bisa dibaca di http://salmahanifa.wordpress.com/ meskipun tidak banyak isinya. Baru 2 diary.
Aku mau berterimakasih sebanyak-banyaknya pada teman-teman yang telah berkomentar banyak pada blog sederhana ini …
2. Kak Raufa yang telah menjadikan aku sahabat. Secara tidak sengaja kutemukan tautan ‘Blog Sahabatku’ (di site-nya) dan alamat site-nya ternyata milikku!
3. Kak Shasha yang telah menyemangati, berkomentar, dan hal lain yang membuatku ingin terus melanjutkan menulis cerpen. Tanpa sengaja dia juga membuatku bersemangat menulis buku!
4. Kak Salsa (hmm, aku gk tau panggilannya. Namanya Hanifah Hajar Salsabila) yang telah melakukan sama seperti yang dilakukan Kak Shasha.
5. Zahra yang suka komentar, memberi ide, dan baik sama aku. Makasih banget! Kalau bukan karena kamu, aku nggak menulis cerita lagi karena tak ada ide.
6. Zahwa (yg dia lakukan sama seperti kakaknya, Zahra). Makasih ya, kiriman fotonya!
Itu dulu saja. Nanti kalau ada lagi akan kutambahkan. Ok, bye!
Aku lagi bosan menulis cerpen nih! Hmm ya, aku mau memuat karya Zahra (temanku yang sering berkomentar). Aku sudah mendapatkan izin dari dia. Ya, hitung-hitung biar dia ‘agak’ terkenal di blog ini. Ok, silakan disimak!
Yang biasanya bermain dengan ku..dan tersenyum padaku..bila dia lewat dia menyapa padaku..itu dulu sekarang gak tuh..gara2 musim bb yaitu blackberry..ih sekarang dia udah punya teman baru..nama nya BB..hmm kta dia teman barunya lebih asyik dari pada aku..teman barunya bisa membuat dia tertawa sendiri..dan bisa buat apa aja yg dia mau..foto..main game..facebook..twiter..bm..dan lain2 ..
nieh ada sedikit cerita..
pas hari libur aku bermain kerumah keyla..aku belum tau keyla punya blackberry …aku juga bersama temanku..yang bernama dina
aku : “assalamualaikum …..main yuk”
keyla : “iya masuk nga di konci” teriak keyla dari dalam rumahnya
dina: ” eh nga biasanya dia kayak gini , biasanya dia buka pintu dan menyapa”eh ..zahra masuk” gitu.. kok.
aku : udah… kali dia lagi nonton tv
tiba-tiba kami berdua mendengar teriakan “heh klo mau masuk..masuk aja” teriak keyla
terdengar marah
aku :iii..ya teriak ku..sambil menggandeng tangan dina
akhirnya kami pun masuk kedalam rumah dina yang lumayan besar itu.
kami (yaitu aku dan dina) : assalamualaikum. kata kami hampir bersamaan
keyla: ngapain kalian kesini…sambil memainkan bbnya
aku: mau main..wahh bb sapa tuh..bb kamu? sambil duduk di dekat keyla
keyla: iya. sambil tersenyum-senyum karna membaca tulisan di hpnya
aku: wah seneng donk. kata ku sambil tersenyum
keylä: iya lha seneeeeeng. Kata dia tanpa menatap ku
temanku: “eh keyla gara-gara ada bb dya jadi begitu ya.. kita jadi dicuekin” bisik dina disisi kuping ku
aku: sttttt..
kebetulan tvnya sedang menyala..
kami berdua menonton tv
bersama dina..
ketika nonton tv terdengar banyak kocehan keyla..seperti tertawa dan “ih bagus nie broadcast nya”..”aah pengen pinnya si greyson”…
pokoknya masih banyakkk lagi ,sampe -sampe dina keberisikan
aku: pulang yuk..brisiiiik..nieh.bisikku sambil menutup kuping
Dina :yuk akh dri pada kyk gini kelontang lantung kyk orang cengo..sedangkan dia enak2kan main sama temen barunya…bisik nya
aku: oke
dina: aku pulang ya..
aku :aku juga ya..
keyla: iya sonoh! !!!!!!! omelnya
kami langsung membuka pintu dan keluar..
tanpa mengucapkan salam..karna sebal dengan tingkah lakunya
sudah sampai di depan rumah ku..kami berdua mengobrol sebentar
aku: eh dia beda amat ya..?
dina: tau noh mentang2 ada temen barunya jadi kyk gono
aku: iya ya..eh udah ya aku dipanggil mama ku tuh ..
dina: stopppp tunggu donk. sambil memegang tangan ku
aku: apa lagi?
dina: eh teriak yuk
aku: ihh teriak apa kayak orang gila..
dina: teriak “I HATE BLACKBERRY”
aku: yukkkk 123
kami: I HATE BLACKBERRY. teriak kami
kami tidak sadar bahwa keyla
mendengar teriakan kami ..
dan keyla marah dan berteriak “woooi enak aja lo”
dan kami saling bertatapan ..dan menahan tawa..akhrinya kita tak bisa menahan tawa..karna tak bisa kami tertawa terbahak-bahak.
By: Azzahra Raudhah (www.blogazzahraraudhah.blogspot.com)
Jangan lupa kunjungi situsnya ya!
Zahra! Hanya satu kata yang kuingat. Zahra temen sekelasku itu, setiap harinya merengek padaku minta chatting. Hihihi .. bahasanya emang terlalu lebay, tapi benar lo .. Zahra itu minta chatting mulu! Sampai-sampai aku bosan mendengarnya. Kalau dihitung, kali ada seratus kali! And .. kalian pasti suanggattt bosan mendengarnya. Dengan kata ‘please‘ dan tampang memelas. Hmm .. benar-benar gaya terlucu dari Zahra!
Sudah entah berapa kali aku mengobrol dengannya. Lewat Yahoo Messenger maksudku. Perbincangan aku dan dia tidak pernah sampai selesai. Selalu terpotong ditengah-tengah entah karena apa. Ya .. gitu, deh! Ngomongnya berkali-kali, tapi waktu diajak ngobrol nggak pernah serius.
Pernah suatu kali di sekolah ada Cooking Session. Aku dan kelompokku belum benar-benar diskusi apa yang akan dimasak, padahal sudah mendekati hari ‘H’. Aku bingung, soalnya apa masih ada waktu untuk diskusi?? Akhirnya saat itu Zahra mengusulkan untuk diskusi di Yahoo Messenger. Tapi aku masih bingung, ketiga temanku yang ikut dalam kelompokku gimana? Apa mereka punya YM??
“Udah, kita berdua aja ..” Aku masih ingat betul kalimat itu saat aku bertanya “Yang lain gimana, Zah? Emangnya punya YM?”.
Eh, taunya waktu lagi chatting, Zahra malah nggak serius. Malah dia bilang “Kita omongin besok aja …”. Untungnya besok Kamis, masih ada waktu sebelum hari H, Jum’at.
Kamisnya, aku dan kelompokku nggak ada waktu. Duhh .. belum beres lagi! Akhirnya ada kesempatan! Pelajaran PKN diganti sama diskusi Cooking Session. Hmm .. akhirnya selesai sudah diskusi, dan benar-benar jadi akan masak apa dan pembagian bawa barang. Chatting hari Rabu itu memang nggak berguna!
Ada cerita lain. Waktu itu, Zahra minta untuk berchatting lagi. Aku pun langsung bermain YM dan chatting dengan Zahra. Ditengah-tengah, Zahra tiba-tiba udahan. Dilanjutkan sama Zahwa, adiknya.
Ternyata, ngobrol sama Zahwa lebih seru. Dia sempat mengirim foto. Meskipun balasnya lama, seru juga ternyata. Dibandingin sama Zahra yang nggak serius, mending Zahwa.
Foto yang dikirim Zahwa berupa gambar dua orang gadis yang memakai baju pesta. Seperti di acara nikah, tapi bukan nikahan. Bajunya aja yang kayak nikahan. Keren, deh! Lalu, aku edit gambarnya di Paint. Di bagian atas ada dua bentuk bintang, dan di bagian bawah “~Salma-Zahwa~”. Mau lihat fotonya? Nah, itu hasil editanku ..
Fotonya keren, kan?
Ada juga yang lain. Waktu itu aku lagi nulis cerpen untuk lomba di Microsoft World. Tiba-tiba, Zahra mengajak chatting dengan menekan “BUZZ!!” berkali-kali. Tentu saja aku terganggu. Terlebih dia menggunakan IMVironment yang “Buddies”. Jadi keluarnya suara terompet dan gambar badut.
Aku sudah bilang “Lagi nulis, jangan diganggu!”, tapi tetap saja Zahra menggangguku. Huuuhhh, dasar Zahra!
ZAHRA, YOU’RE MY FRIEND CHATTING!!!
Note for Zahra: jangan terisinggung yaa..

